Friday, June 30, 2017

Susu Kedelai




Menjadi ibu itu, ekspektasinya bikin makanan dan keterampilan tangan yang cihuy kayak di pinterest. Realitanya, udah belanja, eh ga ada waktu dong ngolahnya. Akhirnya itu belanjaan teronggok tak berdaya di lemari selama berminggu-minggu. Tapi tahukah kamu bahwa niat saja sudah mendatangkan pahala? :P

Begitu pula yang terjadi pada sekilo kacang kedelai yang saya beli entah kapan. Waktu beli dulu sih udah kepikiran mau dibikin susu kedelai buat ASI booster. Namun cita-cita mulia tersebut kandas setelah saya menemukan ASI booster yang lebih mujarab: makan bakmi jawa di depan perumahan. Bayangkan, bakmi homemade yang dimasak bawang putih dan kemiri di atas anglo, dilengkapi kol, seledri dan tomat segar. Masya Allah, mau bakmi goreng atau bakmi kuah sama-sama membuat liur menetes. Dan sebanding dengan liur, maka ASI pun menetes deras setiap kali melahap habis bakmi Jawa.

Maka beberapa hari lalu saat sedang beres-beres lemari dapur, saya dikejutkan dengan buntelan kresek hitam yang ternyata berisi kacang kedelai. Tak mau lagi buang-buang bahan makanan (sebelumnya dengan hati galau sudah membuang tepung ketan hitam yang apak karena kelamaan disimpan), maka cepat-cepat saya oleh kacang kedelai tersebut menjadi Susu Kedelai. Resepnya lagi-lagi pake ilmu kanuragan perkiraan ya, semua asal tuang. Kurang manis tinggal tambah air. Terlalu encer tinggal dimasak lebih lama sama agak asat. Terlalu kental ya tinggal dituang air lagi. Suka-suka deh.


Susu Kedelai

Kacang Kedelai
Air matang

Cara membuat:
Cuci bersih kacang kedelai, lalu rendam dengan air semalaman hingga empuk.
Esoknya, gosok-gosok kacang kedelai dengan kedua tangan hingga kulit arinya terkelupas.
Buang kulit arinya, cuci bersih kacang kedelai.
Masukkan kacang kedelai ke dalam tabung blender, tambah air.
Blender hingga halus. Saring dengan kain blacu, sambil diperas hingga ampasnya kering.
Masak susu kedelai dengan api kecil sambil diaduk-aduk, jaga agar jangan sampai mendidih dan meluap. Saat akan mendidih, segera matikan apinya. Ulangi 2-3 kali hingga hilang rasa langunya. Buat yang suka rasa-rasa, saat dimasak gini silakan ditambah daun pandan atau ekstrak vanilla.
Angkat, dinginkan. Siap disajikan langsung atau ditambah pemanis.


Ampas susu kedelai di atas, saya taruh di Loyang, lalu dipanggang dengan api kecil (100C) selama 2-3 jam hingga kering. Ampas ini bisa dipakai sebagai pengganti tepung untuk kueh mueh. (50 gr ampas kedelai ini saya bikin untuk crumble di postingan Apple Crumble).


Ternyata dua liter susu kedelai ga habis, eneg kaka :D. Yuk diolah lagi jadi….TAHU!!!
Caranya pun ga kalah gampang, tinggal memanaskan susu kedelai lalu diberi air cuka atau perasan jeruk lemon. Aduk-aduk hingga lapisan lemaknya terpisah. Sendoki lemak bergumpal tersebut dan tempatkan di kain belacu agar airnya tersaring. Padatkan, lalu timpa dengan cobek agar airnya keluar serta untuk memadatkan tahu. Dan tadaaaa, jadilah TAHU!!!


Lalu rasanya gimana? Pahit wkakakakka :D. teksturnya pun padat tapi gampang hancur :D Entahlah apa yang salah, menurut analisa nihen sih sepertinya karena ga dikasi borax. Jadi, gimana kalo beli borax dulu untuk bikin tahu selanjutnya? :P




Thursday, June 22, 2017

Let’s Talk About M(i)e

Buat saya pribadi, Mie - sebagaimana hidangan utama lain - adalah salah satu makanan yang paling menantang untuk difoto. Hingga kini, Mie masih menjadi obyek favorit saya, salah satunya karena pertama kalinya saya menerima kritik luar biasa dari seseorang yang luar biasa adalah ketika pertama kalinya saya mengunggah foto Mie, fettucini tepatnya, di WFPP tema #noprops. Saya ingin sekali copas kritiknya di sini, namun apa daya akun instagramnya sudah dihapus, jadi komennya pun musnah tak bersisa. Eniwe, intinya, it was my wake up call. Saya seolah tersadar bahwa motrek makanan ga bisa seenak udelnya, ada aturan-aturan yang mesti dipatuhi untuk memaksimalkan fungsi foto (yaitu bikin ngiler). 


Foto fetucini di atas tertanggal 3 Februari 2015, waktu saya masih pake hape. Lucu ya fotonya? 😂 Entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu, kok ya bisa-bisanya fetucini ditaruh langsung di alas foto 😂😂 banyak yang protes dong, rata-rata karena artistik tidak boleh mengalahkan fungsi. Foto semestinya replika kehidupan nyata: masa makan mie tanpa alas, kan kotor, jorok, aneh ah. Kalo konsepnya mie tumpah, mana wadahnya? Kenapa terlihat diatur sedemikian rupa? Cahaya masih keras, waktu itu belum kenal diffuser atau blocker. Styling, hmmm ga usah dibahas deh 😄



9 feb 2015
Kurang dari seminggu kemudian, 9 Februari 2015 tepatnya, saya mengulang konsep foto #wfppnoprops di atas, hanya kali ini menuruti saran dan kritik seseorang untuk mengambil gambar dengan teknik BEV, belajar blocking cahaya, serta memperbaiki styling yang ga asal gabruk aja: pertama-tama mie dicepol menggunung agar terlihat berdimensi, lalu beberapa helai dicerabut untuk memberi kesan messy, lalu menata topping (irisan cabe, tuna, daun basir, keju parmesan). Arah cahaya dari pukul 12 yang diblok, tapi disisakan sedikit yang mengarah langsung ke obyek. Karena konsepnya tanpa properti, maka butuh membuat foto yang moody nan dramatis agar pemirsa tidak bertanya-tanya mana piringnya, garpunya, dsb; tapi langsung memandang keindahan mie dan parkir di situ #eaaaa. Tepat di titik inilah saya berkenalan dengan Still Life. It doesn't have to be rational, you just have to make them alive. Meski kalo untuk still life, masih kurang dramatis sih ya, but hey, it was my first time! 😬




27 mei 2015


30 mei 2015


1 juni 2015


30 mei 2015
Empat foto di atas adalah setoran untuk #WFPPNOODLE dan ulangannya :D. Pertama kalinya motrek mie kuah dengan topping lengkap, dari sayur, lauk hingga kuahnya. Lihat kan, mie-nya sudah terlihat berdimensi, tapi toppingnya kedodoran, poached egg gagal, kuah yang tidak terlihat kaldunya, irisan tomat yang tidak terlihat kesegarannya, styling yang masih kaku dsb.


15 Juni 2015







Kalo dua foto di atas adalah foto yang saya kumpulkan untuk ikulan lomba foto mie. Cahaya flat, telur ceploknya tidak menyelerakan (ga ada pantulan cahaya di kuning telur, terlalu matang), styling kaku banget.



 


Dua foto di atas tertanggal 7 April 2016, pertama kalinya motrek mie mentah. Lumayan lah.


5 mei 2016
Sudah pernah motrek mie kuah, jadi lumayan pede lah motrek mie kuah lagi, meski komposisi terlihat sesak, tapi styling makanan udah oke: kuah terlihat kaldunya, topping ayam terlihat shiny, begitu juga dengan mie-nya.


14 juni 2016, Mie Buah Bit
 


Pertama kalinya bikin mie sendiri dengan pewarna dari buah bit, meski kurang merah dan sewaktu dimasak warnanya buyar, tapi cukup puas dengan hasilnya (baik foto maupun rasa).


17 juni 2016, Pad Thai
Foto ini untuk foto produk sebuah wajan yang mengendorse saya. Maunya styling ala-ala Donna Hay yang messy gitu, tapi gagal dong 😥. Tantangan banget motrek Pad Thai dengan warna pucat yang isinya ada kecambah, bakso (berwarna pucat) dan udang. Taburan daun ketumbar, cabe kering dan kacang mete nya kebanyakan, jadi nutupi tekstur mie; terus lupa lagi irisan jeruk nipisnya.


Homemade Pasta
Fettucine Carbonara

Foto tertanggal 22 Juni ini pertama kalinya bikin pasta sendiri. Masalah utama di sini lighting yang flat!! PR banget kalo motrek pake props putih-putih 😭😭 Jelek, me dont like it.



Spaghetti
 Foto tanggal 6 November 2016 ini hasil endorse produk sosis. Simple, but i like this picture. Andai ada daun basil atau peterseli di situ kayaknya bisa bikin lebih hidup ya.
21 nov 2016
Kalo ini foto untuk mi instan yang jadi penyelamat anak kos ituuuuh. Komposisi dan styling aga kaku, lighting pun agak flat. Sejujurnya fotonya maksa, waktu itu saya baru ngelahirin (Z masih 2 bulan kurang). Pelajaran banget untuk ga memaksa diri sendiri nerima kerjaan saat kondisi ga memungkinkan. Untunglah klien oke-oke aja meski saya ga puas sama hasil fotonya 🙈🙈


16 des 2016
Ini pentingnya persiapan dan mengetahui karakteristik hero yang hendak dipotrek. Foto di atas adalah zoodle, alias zucchini noodle. Zucchini yang dirajang panjang seperti mie lalu dimasak. Karena belum pernah masak zucchini, nekad deh, eh ternyata waktu dimasak berair, huwaaaaa. Pas diangkat dan airnya dilap pake tisu, zucchininya udah letoy banget. Payah!


5 jan 2017
 Pertama kalinya motrek bihun. Karena tanpa pesiapan, jadi ambil properti seadanya sambil main matching-matchingan. Banyak kurangnya foto ini, dari ga ada cabe, topping yang kalah sama bihun, but I like it!


5 mei 2017
Bikin mie buah bit lagi, saat itu pindah spot ke dapur yang semi outdoor (selama ini motrek di ruang tamu). Eh ternyata cahayanya oke juga. Saya baru ini dapat cahaya yang terangnya oke untuk alas putih. Warna mie beserta toppingnya terlihat nyalak. Oke timunnya maksa, but this one is my favorite!


7 mei 2017
 Sejak punya buku Women's Weekly, saya jadi terpengaruh gayanya yang messy, vibrant dengan nuansa oldies yang kental (enamelware, rustic silverware tapi dg mood cerah ceria). Ini salah satu hasil contekan stylingnya menurut versi saya. Lighting aga flat, tapi saya suka dengan mie yang terlihat naturally effortless, kayak mak gedabruk gitu aja tapi masih terkontrol.


16 mei 2017
Foto mie terakhir ini dari endorse produk mie sehat. Buat menaikkan tantangan, dalam satu frame saya bikin mie kuah dan mie goreng dengan topping yang berbeda. Ribetttt, but i love it!

Karena dapat mie yg warnanya bluwek, jd ngerencanain topping warna-warni untuk ngangkat mie. Begini persiapannya:
1. Siapin props, tes cahaya
2. Masak Mie: a. Rebus rebus jagung n jamur sambil motong cabe, kompor satunya rebus telur
b. Jagung & jamur ☑, rebus mie utk mie kuah (kuahnya ga dipake ya), kompor satunya goreng bawang goreng, lalu ayam. c. Mie utk mie kuah ☑, lanjut rebus buat mi goreng, ayam udah matang, kompornya ganti rebus air (buat kuah)
3. Plating mie goreng n kuah 
4. Motrek, utak atik komposisi, cahaya (apa perlu diffuser, blocker, reflektor)
5. Poin e  oke, baru nyiram kuah ke mangkok utk mie kuah
6. Last touch: oles minyak ke mie, jamur, cabe n jagung agar shiny n kliatan fresh 
7. Jepret berbagai angle

8.  Z udah nangis geruh2 dicuekin dari tadi 😂😂

Kesimpulannya, as cliche as it sounds, practice makes perfect. Skill is like muscles, the more you train, the stronger they are.  Foto mie saya masih jauh dari sempurna, tapi semakin lama saya semakin tahu apa yang kurang dari foto saya, ga se-clueless waktu pertama kali motrek mie 2 tahun lalu. Motrek mie juga udah ga selama dulu. Ingat kan kalo persiapan adalah setengah dari kesuksesan, jadi persiapan saya jauh lebih matang (dari  nentuin konsep, nyiapin properti, menghias topping, menata mie, dsb). But again, at the end of the day, your feeling is the matter at the most. Ga peduli orang kata apa soal fotomu, as long as you like it, YOU WIN!!! 

Tuesday, June 20, 2017

Ladrang



Kraus Kraus Kraus…

Sejarah mencatat bahwa cemilan berbentuk stik renyah yang dibuat dari adonan roti berasal dari kota Turin, Italia. Konon Grissini, nama stik roti tersebut, telah diciptakan semenjak abad ke-14, meski menurut orang lokal Turin, pencipta pertama Grissini adalah Lanzo Torinese pada tahun 1679 (begini kata Wikipedia).

Kraus Kraus Kraus…

Entah bagaimana caranya, Grissini yang memakai adonan roti kehilangan raginya saat perjalanan ke Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Dan barangkali seperti Patih Gaj Ahmada yang berubah menjadi Gajahmada pada lidah orang Jawa, maka Grissini pun dialihbahasakan menjadi Ladrang. Jauh amat ya keseleo lidahnya… Padahal Ladrang adalah struktur 32 ketukan dalam karawitan, mungkinkah dinamai Ladrang karena pembuatan Ladrang membutuhkan 32 ketukan dan hentakan pisau saat mengiris adonannya?

Kraus Kraus Kraus…

Ladrang adalah stik renyah dari tepung dan kanji, dibumbui bawang putih dan micin banyak-banyak agar gurihnya nonjok; serta tak lupa diberi kucai atau seledri sebagai pengurang rasa bersalah. Sebungkus plastik ukuran 200 gram dibanderol tujuh ribu rupiah, harga yang lumayan untuk stik tepung rasa micin...

Kraus Kraus Kraus….

Dan karena sekali makan saja langsung habis sebungkus plastik itu, maka khusus setiap bulan puasa pak suami minta dibikinin Ladrang agar gilingan mie yang dibeli tahun lalu ga mangkrak di lemari dapur.

Kraus Kraus Kraus….


Stik Bawang Pedas
Modif dikit dari: Rizma Syuhada dapoer ijo

Bahan:
500 gr tepung protein sedang
125 gr tepung sagu
90 gr margarin leleh
1 bungkus Boncabe level 30 + 1 sdm Boncabe rasa Teri
8 tangkai daun seledri
2 siung bawang putih, haluskan
2 butir telur
¼ sdt baking powder
¼ sdt baking soda
½ sdt kaldu ayam bubuk
Air secukupnya

Cara membuat:
Aduk semua bahan hingga tercampur rata, tuang air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga kalis.
Giling tipis di gilingan mie dengan ketebalan sesuai selera.
Potong dengan pemotong mie yang lebar (kwetiau).
Potong panjang 15 cm.
Goreng dalam minyak banyak yang sudah dipanaskan terlebih dahlu hingga matang dan kering.
Angkat, tiriskan.

catatan: a. rasanya aga hambar, lain kali tambah garam 1/2 sdt deh biar nonjok. Atau micinnya dibanyakin. Di resep asli utk 1 kg tepung terigu butuh micin 1,5 sdt.
b. resepnya pake seledri tapi fotonya kok peterseli? Beneran pake seledri, tapi pas motrek seledrinya udah layu menguning, jelek ah dipoto :P



Friday, June 16, 2017

Sifon Ketan Hitam


Saat masih kuliah dulu, saya bercita-cita, jika kelak memiliki anak perempuan akan saya namai Liyan. Liyan atau dalam bahasa Inggris The Other adalah konsep fundamental dalam pemikiran Simone de Beauvoir di bukunya The Second Sex. Meminjam modus “Ada” pada manusia dalam filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Beauvoir berpendapat bahwa dalam relasi laki-laki dan perempuan, laki-laki (Diri, Subyek) memandang perempuan sebagai Liyan, sebuah obyek yang tidak dapat berdiri sendiri. Tak hanya dapat berdiri (eksistensi) sendiri, Liyan juga dipandang sebagai ancaman bagi Diri, maka di sinilah sumber subordinasi laki-laki terhadap perempuan. Perempuan harus ditundukkan karena ia adalah ancaman laten dan manifest bagi eksistensi laki-laki.

Namun tak terbatas pada feminisme, konsep Liyan juga banyak dipakai untuk menjelaskan tentang sesuatu yang tak terpecahkan, tak terhitungkan, yang terpisah dari keDirian kita. Pada satu titik, Liyan adalah ancaman, namun bukankah apa-apa yang berada di luar kita adalah ancaman karena ketidaktahuan kita tentangnya?

Alasan lain pemberian nama Liyan, adalah karena Goenawan Mohamad. Catatan Pinggir adalah manuskrip pertama yang membuat saya jatuh cinta pada dunia literasi, jauh sebelum cinta saya pada Matilda dan Little Prince. Lahir dan besar dari orangtua yang tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, alm Bapak mengajarkan kecintaan pada aksara saat ia – seorang sopir di pabrik rokok – berlangganan majalah Tempo. Bagi bapak, membaca Tempo adalah secuil surga yang ia nikmati setelah seharian bermandikan peluh di jalanan. Saya masih ingat benar, saat kelas dua SD, saya hafal semua nama menteri di kabinet Pembangunan beserta nama ketua DPR dan MPR. Saya ikut ngobrol dengan bapak tentang perpecahan di PDI, antara Soerjadi dan Megawati. Saya tidak mengerti arti komunisme, kapitalisme, Marxisme, hingga usaha Fritjof Capra untuk menjembatani sains dan agama di bukunya The Tao of Physic; namun otak saya sudah sedemikian familiar dengan nama dan konsep-konsep asing tersebut. Dan ya, Goenawan Mohamad adalah orang yang memperkenalkan istilah Liyan ke dalam kamus bahasa Indonesia.

Maka nama Liyan saya pilih bukan hanya karena ia adalah salah satu konsep terpenting di Feminisme, namun juga karena ia mengandung kenangan akan Bapak. Bapak yang ternyata seorang Liyan: sopir miskin yang dengan kurang ajarnya berlangganan majalah Tempo yang tentu saja harganya tidak murah.


Sekitar bulan Juni-Juli tahun lalu, saat bidan dengan yakin menyatakan bahwa janin yang saya kandung berjenis kelamin perempuan, saya memutuskan untuk tidak menamainya Liyan. Entah karena didorong naluri sebagai orang tua yang ingin melindungi anaknya, bagi saya Liyan adalah sebuah resiko. Menamai Liyan berarti mengharapkan keLiyanan pada anakmu, dan ternyata saya tidak cukup kuat untuk menanggungnya saat ini. Saya menyadari bahwa saya tidak memiliki hak untuk menginvestasikan harapan terlalu besar padanya. Saya ingin, biarlah dia sendiri yang menentukan jalannya, bukan saya ibunya. Entah apa kelak ia menjadi Liyan atau Diri, cukup dia, pengalaman serta pilihannya yang akan membuatnya menjadi. Seperti halnya pilihan saya untuk tidak menindik telinganya, yang bagi saya adalah memberinya pilihan ketika ia besar nanti. Bagi saya dan suami, masalah tindik telinga ini sangat sepele; namun ternyata tidak bagi keluarga besar, tetangga serta teman-teman kami. Bagi mereka, penanda perempuan salah satunya adalah tindik di telinga :D. maka tanpa saya menamainya Liyan-pun, saat ini Z sudah menjadi Liyan di mata handai taulan kami yang memandangnya aneh  (dan berkali-kali menganggapnya anak laki-laki). Oh well….


Nah dalam dunia perglepungan, bagi saya tepung ketan hitam adalah liyan. Selain karena warnanya, teksturnya pun sangat berbeda dari tepung-tepungan. Meski namanya black glutinous rice, namun ketan hitam ternyata tidak mengandung gluten. Nama glutinous merujuk pada teksturnya yang lengket seperti lem yang disebabkan oleh kandungan amylose dan amylopectin yang tinggi. Saat diolah, teksturnya berpasir, legit dan rasanya sangat khas: sedikit terasa kacang (nutty) dengan selintas rasa manis alami. Di Indonesia tepung ketan hitam banyak diolah menjadi aneka jajan tradisional seperti Bugis, Kue Ku atau Getas. Untuk cake yang paling sering ya ini: Sifon Ketan Hitam. Aduhhhh, tekstur empus-empus ala sifon ketemu ketan hitam yang berpasir dan legit, huah susah berhentinya. Enak. Enak. Enak!


Sifon Ketan Hitam

Adonan A:
40 ml minyak sayur
65 ml santan kental
5 kuning telur
100 gr tepung ketan hitam

Adonan B:
5 putih telur
80 gr gula pasir

Cara membuat:
Panaskan oven 170 C.
Campur adonan A jadi satu di mangkok, aduk dengan kocokan kawat, sisihkan.
Campur adonan B jadi satu di mangkok lain, kocok dengan mixer kecepatan tinggi hingga jambul petruk (saat mangkok dibalik adonan tidak tumpah).
Aduk balik Adonan B ke adonan A dalam tiga tahap.
Tuang ke Loyang sifon, hentakkan 3 kali agar gelembung udara keluar.
Panggang hingga matang sekitar 40 menit.
Angkat, balik Loyang hingga dingin.
Keluarkan cake dengan disisir sekelilingnya menggunakan pisau tipis.
Potong-potong, sajikan.






Thursday, June 15, 2017

Apple Crumble


Buibu, liburan gini hayuk ah berdayakan bocah-bocah untuk turun ke dapur. Meski dapur akan lebih berantakan, namun banyak pelajaran berharga yang bisa anak dapatkan dari kegiatan domestik seperti ini. Tak hanya belajar memasak atau bikin kue, tapi bu ibu juga bisa menyisipkan pesan-pesan tentang arti menjaga kebersihan, belajar berhitung (menimbang bahan kue), keselamatan (menyalakan kompor, memasukkan Loyang ke oven), sampai keterampilan kinetik seperti mengiris, mencetak, melipat, dsb.


Hoaaaaaaahhhm…


I wish I could say that caption from the bottom of my heart. But the bitter truth is: having 8 months baby and a toddler really .. really drain my energy. Z my daughter is starting to walk. She could stand while holding the chair but the next minute she raise her hands and trying to stand up by herself. Horror. And K is sometimes… most of times….getting on my nerves. Asking anything from what is God until talking about his friend named Azra or Rozak or Zara - or whoever I dont remember - pushing his chair so he fell when he was going to sit. Grabbing anything he likes, from colander to lego, ball to banana and spread them away in the floor like grenades. And don’t forget the never ending request right after he ate some food, from nugget to sushi, pudding to soto, muffin to candy; you know, just like oldies said “sak mecotote lambe”.

Rome Beauty
And so… no. Bringing two children to kitchen is the most horrifying thing in my vocabulary rite now. Since Ramadan, I rarely cook or bake. Because… well because I have two loyal audiences whenever I go to the bathroom and you expect me to cook? Where should I keep them? In a box so I could bake cookies wholeheartedly? These kids, the baby especially, is my biggest, hugest fans in the world, she could not, could never, will never leave me alone. She knocked on my bathroom door while crying right after I left her for take a piss, like five second ago. So if you think having one child is terrible, just imagine if you have two little monster. Now I need to make appointment to my obgyn for my birth control. No thanks, I don’t plan having third me in near future.

Manalagi
Anyway, enough ranting about MOMMA NEED SOME REST. Let’s talk about this Apple Crumble. Actually I was planning to make Apple Pie, but again, considering those two little monsters, so I made this Apple Crumble which less difficult, less complicated but the result is as good as I imagined. If you wonder how could I made it, well off course I peel and chopped the apples the night before when the kids were sleeping. The next day, I just set my oven, prepare for the crumble while my son doing all the measurement, mixing, pouring etc. So did I do nothing? If you categorize cleaning the mess (flour and apple filling spilling all over the flour, creating a sticky kitchen) as doing nothing, so yes, I did nothing. Nothing but cleaning. For the sake of happy kids but tiring mom. I guess that conclude the perk of being mom: making your children happy but you do the dirty laundry.


Apple Crumble

Filling:
7 apples, I used local Manalagi and Rome Beauty, peeled, chopped coarsely
100 gr brown sugar
3 calamansi juice
1 tsp cinnamon powder

Crumble:
50 gr biscuits
50 gr gluten free flour (mocaf)
50 gr leftover soy meal  
50 gr nuts (canary, almond, pumpkin seeds)
50 gr butter

Directions:
Pre heat oven to 180 C
Mix apple, calamansi juice, and brown sugar in a bowl. Stir in cinnamon powder. Spoon mixture into 4 1-cup (250 gr) shallow ovenproof dishes.
Crumble biscuit flour, soy meal and nuts into a bowl. Rub in butter until mixture clumps slightly. Sprinkle mixture on fruit.
Bake for 20 minutes or until crumbles are heated through.

** The day before I made soy milk then I baked the leftover soy meal until completely dry. Dry soy meal can be used in baked goods. You can replace the soy meal with flour, biscuit or nuts for the crumble.