Tuesday, September 5, 2017

Mustikarasa: Resep, Sejarah dan Njonja Rumah




Apa yang membuat suatu resep menjadi warisan turun temurun dan dilestarikan dari generasi ke generasi? Jawabannya, apabila resep tersebut fail proof, ia terbukti anti gagal karena telah melalui berbagai uji coba dan rasanya dapat diterima oleh berbagai lidah. Di sinilah letak penting Dapur Uji Coba yang menjadi bagian fundamental dari setiap buku masak. Dapur Uji Coba ibarat Fit and Proper Test, ia wajib ada untuk memverifikasi sebuah resep, menemukan kejanggalannya, menambah kurangi elemennya hingga didapat rasa yang pas. Maka jamak kita temukan tulisan “Triple Tested” atau “Telah Diuji di Dapur Fulan” di setiap buku resep masakan. Karena Buku Resep Masakan meskipun bukan buku sains, ia memuat ukuran dan cara kerja yang membutuhkan presisi dan akurasi; meski bukan buku sosial budaya, ia adalah jejak sejarah dan antropologi suatu daerah. Apalagi, jika Buku Masak tersebut disusun langsung oleh Menteri Pertanian atas perintah Presiden Sukarno pada tahun 1960 dan diterbitkan tujuh tahun setelahnya: MUSTIKARASA Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno.

Indonesia Dalam Masakan
Pada tahun 1958 Indonesia berada pada masa krisis pangan akibat lonjakan pertumbuhan penduduk yang cepat namun tidak disertai dengan peningkatan produksi beras. Gejolak pangan yang terus terjadi menginspirasi Sukarno untuk membuat suatu buku yang “memuat daftar kekajaan makanan Indonesia serta susunan zat-zat bahan makanan jang resmi bagi Indonesia” (xiv). Beliau menginginkan rakyat Indonesia tidak hanya terpaku pada beras, namun juga memanfaatkan aneka sumber makanan pokok yang selama ini jarang tersentuh. Maka Mustikarasa lahir sebagai salah satu ikhtiar Sukarno mewujudkan politik self reliance atau percaya pada kekuatan sendiri.

Nasi Kukus
Mustikarasa, 195

Mustikarasa membutuhkan waktu selama tujuh tahun untuk menghimpun 1600 resep yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Proses pengumpulan resep memakan waktu terlama karena begitu banyaknya resep yang tidak lengkap atau keliru, “sehingga kadang2 perlu diadakan cooking test untuk memeriksa kebenaran susunan resep…” (xxx).
Namun dengan berbagai kendala dari metode pengumpulan resep hingga peristiwa 30 S/PKI yang mengkudeta Presiden Soekarno dan mau tak mau memutus berbagai kebijakan politiknya di tengah jalan, termasuk proyek Mustikarasa. Hasilnya, Mustikarasa terbit dengan banyak sekali kesalahan, baik asal resep hingga komposisi bahan maupun instruksi yang tidak lengkap. 

Balung Kuwuk
Mustikarasa, 808

Misalnya, mengapa makanan asal Spanyol seperti Tortilla ala Indonesia (203), Tortilla Guadalajara (204), Chateau de Sumatera (849), Champurado dan Chilaquiles (850) hingga Polenta (1058) dimasukkan ke dalam buku yang diterbitkan ulang oleh penerbit Komunitas Bambu ini? Atau sejak kapan Tegal memiliki makanan khas berupa Taart Nasi (1105), Balado Teri yang tertulis berasal dari Rembang (398), Rendang Djengkol dari Purwokerto (686) atau Betutu dari Banten (403)? Bahwa kuliner Indonesia banyak terpengaruh oleh Arab, Tionghoa dan Belanda adalah sebuah fakta sejarah yang tak bisa kita pungkiri. Namun mengklaim Tortilla yang berbahan dasar Tepung Jagung (tepung jagung di sini berarti polenta, jagung kering yang dihaluskan; meski di Bab Bahan Makanan yang ditulis oleh Harsono Hardjohutomo tepung jagung didefinisikan sebagai maizena, 10) hanya karena pada saat itu Presiden Sukarno sedang giat menggalakkan Politic Self Reliance untuk memanfaatkan secara maksimal hasil bumi Indonesia selain beras; merupakan sebuah pemaksaan kehendak.

Sebaliknya, makanan tradisional khas daerah seperti Bingka, Soto Banjar, Ipau, Krengsengan, Ayam Taliwang dan Beberuk, maupun aneka masakan khas luar Jawa banyak yang tidak terdokumentasi buku setebal 1200 halaman ini. Dari 1600-an resep, 900 diantaranya yang beridentitas daerah, 440 berasal dari Jawa, 184 dari Sumatera dan sisanya Sulawesi (95), Bali (73), Kalimantan (48), Madura (41) dan lainnya (Nusa Tenggara, Irian, Maluku, Timor).

Abug Matjan Ubi Kaju (Bali)
Mustikarasa, 794

Tak hanya itu, beberapa resep juga tidak menyertakan bahan pembuatnya yang demikian krusial. Gula dan Daun Jati misalnya, dua bahan penting dalam pembuatan gudeg justru tidak tercantum di resep Gudeg Jogja (450). Padahal kita semua tahu bahwa yang membuat warna kemerahan pada Gudeg adalah daun Jati serta manis legit Gudeg adalah hasil karamelisasi gula aren setelah dipanaskan berulang-ulang. Atau Serai dan Daun Jeruk Purut yang absen dari Resep Sate Lilit Bali (746) yang membuatnya wangi. Atau ketiadaan bumbu Base Genep di Betutu (di Mustikarasa ditulis berasal dari Banten, 403) namun bahan dan cara pembuatannya justru mirip Ayam Kodok.

Gudeg (jogjakarta)
Mustikarasa, 450
Atau bila menyentuh ke teknis resep, seperti misalnya Taart Gulung (1102). Bila dilihat dari bahan dan cara pembuatannya, Taart Gulung ini serupa Bolu Gulung (komposisi tepung vs telur 1:6; dibakar di Loyang tipis, dioles selai lalu digulung). Namun sejauh pengetahuan saya, Bolu Gulung selalu menggunakan Tepung Terigu (bisa protein sedang atau rendah), bila ada maizena maka hanya beberapa sendok yang difungsikan agar tekstur lebih kokoh. Tapi di resep Taart Gulung satu-satunya tepung yang digunakan adalah tepung jagung.

Atau pada Kue Mendut (970). Mendut atau Bugis adalah jenis kue basah berbahan dasar tepung ketan, berisi unti kelapa dan dibungkus daun pisang. Di resep ini, tepung ketan yang dibutuhkan untuk membuat kue Bugis dengan jumlah satu butir kelapa adalah satu sendok teh. Bagi saya ini kesalahan fatal, apalagi untuk buku yang dicetak ulang.

Citroentaart (menggunakan tepung garut)
Pandai Masak, 110

Bila dibandingkan dengan buku masak di periode yang sama, misalnya buku Pandai Masak oleh Njonja Rumah, terlihat sekali perbedaannya. Terbit pertama kali tahun 1957, Pandai Masak adalah kumpulan resep yang sebelumnya telah diterbitkan di surat kabar Star Weekly. Beberapa resep di Mustikarasa juga terdapat di Pandai Masak, namun terdapat perbedaan yang cukup mencolok, misalnya pada resep Kue Mangkok. Di Buku Mustikarasa, kue kukus berbahan dasar tepung beras ini menggunakan soda kue sebagai bahan pengembangnya. Sedangkan di Pandai Masak menggunakan campuran tape beras, air kelapa dan legen. Begitu pula untuk resep Kue Bikang Ambon yang menggunakan tape beras sebagai ‘ragi’nya di Pandai Masak, sedangkan di Mustikarasa (Tjara Bikang, 1122) malah tidak menggunakan bahan pengembang apapun. Di sini Njonja Rumah menunjukkan kelasnya sebagai ahli masak klasik yang masih memegang teguh kearifan lokal namun juga menyambut hangat modernitas kala itu (untuk kue tradisional menggunakan ragi dari tape beras, namun untuk roti-rotian yang asalnya dari Barat menggunakan gistkorrels: ragi instan).

Roti Kukus
Pandai Masak, 86
Tujuan Sukarno yang ingin memperkenalkan bahan non beras di Mustikarasa, nyatanya hanya terbatas pada jagung, terigu dan umbi-umbian (gaplek, tepung singkong, ubi jalar, talas, kentang dan gadung) untuk bahan utama karbohidrat. Sebaliknya di buku Pandai Masak yang hanya berisi 400 resep, terdapat aneka pengganti tepung terigu seperti tepung pisang dan aroowroot (tepung garut), selain kentang, gaplek, singkong dan ubi. 

Lepet Djagung
Pandai Masak, 91
Dari perbedaan di atas , sebagai penikmat buku resep saya lebih condong ke buku Pandai Masak sebagai buku masakan klasik. Satu, karena ia ditulis oleh satu orang (atau tim) yang sama, yaitu si Njonja Rumah yang telah memiliki dapur uji coba sendiri. Karena ditulis oleh satu orang (atau tim), maka terdapat standardisasi yang pasti, dari ukuran hingga gaya bahasa. Dua, karena resep-resep dalam Pandai Masak dipastikan telah melalui serangkaian uji coba. Pandai Masak adalah kumpulan resep yang pernah diterbitkan di Star Weekly, sedangkan resep-resep tersebut sebagian besar adalah resep kiriman pembaca yang kemudian dicoba oleh Njonja Rumah, nama pena Julie, sosok wanita Tionghoa yang kaya pengalaman akan seni memasak sejak masa kolonial. Tiga, ia disunting oleh orang-orang yang bergelut dalam bidang jurnalistik dan kuliner sehingga bahasa yang digunakan sangat mudah dimengerti dan disertai aneka tips yang sangat bermanfaat.

Opak Gulung
Pandai Masak, 106
Perbandingan antara kedua buku resep sejaman ini penting untuk mengetahui seberapa presisi resep tersebut. Dan tepat di titik itulah saya menilai Mustikarasa sebagai buku resep tidak cukup mampu mengemban amanat Presiden Soekarno untuk menjadi buku makanan yang menjadi kiblat masakan orang Indonesia.

Maka menjawab pertanyaan Andreas Maryoto saat menulis resensi di Kompas tentang mengapa Mustikarasa “…“…tersimpan lama dan tidak dikenal di ranah publik berpuluh tahun… . Buku ini lebih banyak dikenal oleh para kolektor dibandingkan para pencinta kuliner…”, barangkali jawabannya bukan karena buku ini terlalu Soekarnois atau karena produk Orde Lama. Namun karena sebagai buku resep, Mustikarasa tidak teruji. Ada terlalu banyak salah resep baik dari sisi resep yang tidak lengkap, salah bahan atau salah instruksi serta resep-resep yang Jawa-sentris untuk bisa mewakili Indonesia. Ibaratnya, resep-resep dalam Mustikarasa adalah kumpulan resep yang asal jadi yang dibuat dengan tergesa-gesa dan tidak banyak melibatkan orang-orang yang bergerak di wilayah kuliner, baik dari sisi praktisi hingga jurnalisnya. Pun sayangnya, penerbit Komunitas Bambu juga mengulangi kesalahan ini dengan tidak melakukan penyuntingan resep yang signifikan. Saya curiga bahwa penyunting kurang memahami dunia kuliner dan tidak benar-benar membaca detil setiap resep di buku setebal 1200 halaman ini.

Sambal Tjangkediro
Mustikarasa, 789

Namun meski begitu, bila kita memperlakukan Mustikarasa sebagai salah satu buku sejarah akan kebangkitan kuliner Indonesia, maka buku setebal 1200 halaman ini memang wajib dikoleksi. Terlepas dari berbagai kekurangannya, Mustikarasa adalah tonggak kebangkitan gastronomi Indonesia. Ia lahir dari buah pikiran Sukarno yang mencita-citakan keragaman masakan Indonesia terekam dalam satu cetak biru buku masakan. Di buku ini, pembaca sedikit banyak dapat merasakan nafas juang Sukarno, para menteri terkait hingga ibu-ibu PKK yang bergotong royong menampilkan kebhinnekaan Indonesia dalam masakan. Dan atas dasar itulah, buku ini layak dikoleksi oleh siapa saja yang tertarik dengan gastronomi Indonesia.

Rengginang
Mustikarasa, 1069


Sumber Pustaka
Fadly Rahman. 2016. Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.
Harsono Hardjohutomo (et.al). 2016. Mustikarasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno. Cetakan Kedua, Komunitas Bambu.
Majalah Kenduri. Edisi Juli 2017.
Njonja Rumah. 1965. Pandai Masak jilid 1. Jakarta: KINTA.



Friday, July 21, 2017

Ulasan Buku: Dapur Bunda Nina



Jauh sebelum Instagram menjadi buku resep virtual, Food Blog adalah rujukan ibu-ibu muda yang sedang belajar memasak. Berbeda dari Instagram yang membatasi panjang keterangan (caption) yang hendak kita tulis, dalam satu unggahan blog bisa memuat beberapa gambar sekaligus cerita panjang lebar dari penulis. Maka pembaca tak hanya mendapat resep, namun seringkali cerita unik di balik lahirnya resep tersebut. Dan bisa ditebak, salah satu jujugan saya saat bingung memasak apa (atau sekadar surfing sambil mengagumi foto masakan) adalah Blog Catatan-Nina


Nge-blog sejak tahun 2011 membuat Agustina Dwi, ibu rumah tangga yang terkenal dengan sebutan Bunda Nina ini, terbiasa ngoprek kamera dan menata makanan. Bila melihat foto-foto di awal blog, terlihat sekali metamorfosa Food Photography Mbak Nina. Dan sejujurnya, foto-foto indah inilah yang membuat buku Dapur Bunda Nina terasa menonjol di antara buku resep masakan sejenis yang difoto sendiri oleh penulisnya.


Yup. Dapur Bunda Nina adalah buku masak terbaru terbitan Gramedia yang berisi lebih dari seratus resep masakan Mbak Nina, sebagian besar telah tayang di blog maupun Instagram beliau @bundina_kitchen. Keseratus resep tersebut tidak hanya memuat masakan tradisional seperti Nasi Liwet, Nasi Bakar, Soto Tangkar hingga kueh mueh penuh nostalgia seperti Colenak, Pisang Gapit hingga Carang Gesing. Namun makanan street food  kekinian yang menjadi favorit anak-anak kita juga turut dihadirkan di buku setebal 212 halaman ini; sebut saja Kaki Naga, Chicken Katsu, Mango Sticky Rice, Mac Pie hingga yang beberapa waktu lalu sempat heboh: Sempol Ayam.


Seolah bisa membaca pikiran kita yang haqqul yaqin bahwa masakan Indonesia Paling Enak Sedunia namun seringkali tergoda dengan aneka masakan asing berpenampilan lucu menggemaskan dan bikin anak makan lahap; Buku Dapur Bunda Nina mewadahi aspirasi kita semua. Membaca Dapur Bunda Nina seolah membaca puluhan screenshot resep-resep yang kita simpan (dan entah kapan mengeksekusinya 🙊), hanya kali ini dalam versi terbaiknya: buku fisik yang bisa kita bolak-balik tanpa bikin mata pedih karena radiasi, atau kalau dalam kasus saya: saya corat-coret untuk menandai bahan pengganti dan aneka keterangan lain.


Di buku ini, kita tak hanya dimanjakan dengan resep rumahan maupun a la café  beserta instruksinya yang praktis dan terasa gampang sekali dibuat. Namun mata kita juga dihibur dengan foto makanan yang bikin ngiler.


Foto-foto Mbak Nina terasa sekali nuansa homemade-nya: cahaya yang terang namun hangat, penggunaan piranti saji berbahan enamel maupun rotan yang bersanding dengan sendok garpu lawasan hingga serbet yang diletakkan begitu saja. Remah-remah makanan terlihat berjatuhan di sekitar piring atau tetesan saus coklat di tumpukan Pancake membuat siapa saja yang melihatnya menelan ludah dan ingin segera mengeksekusi resep tersebut. Berkecimpung lama sebagai Food Blogger terbukti membuat Mbak Nina mampu mempresentasikan resep biasa terlihat istimewa dan menggiurkan. It is indeed, that a picture speaks a thousand words.

Ayam Goreng Kalasan yang saya coba dari buku Dapur Bunda Nina, enak! 😋😋

Namun tak ada gading yang tak retak. Meski gambar-gambar cantik menghiasi setiap lembar buku ini, beberapa foto terlihat kurang tajam atau miss focus. Selain itu dibandingkan dengan tampilan di Instagram maupun blog, foto-foto yang ada di buku Dapur Bunda Nina terlihat sedikit lebih lembut dan gelap, padahal tipe cahaya di foto-foto Mbak Nina sangat terang dan kuat dengan POI yang stand out (baik di dark maupun bright photography). Well, saya ga tahu apakah photo editing ini disengaja ataukah faktor di percetakan. Not a very big deal since the pictures is as drooling worthy as ever ðŸ˜‰


Dan karena mengenal Mbak Nina lewat blog yang selalu berisi narasi panjang lebar di setiap unggahan, sejujurnya saya berharap akan ada banyak cerita tentang resep yang ada di Dapur Bunda Nina, bukan hanya prakata pengantar awal resep yang berisi hal-hal umum saja. Bagi yang terbiasa membaca blog, pasti merasakan bahwa gaya bahasa setiap blogger memiliki ciri tertentu yang tidak bisa disamakan dengan blogger lain. Pun begitu pula dengan gaya bahasa yang biasa saya baca di catatan-nina.blogspot.co.id, namun sayangnya di buku ini saya tidak menemukan sosok Mbak Nina yang saya kenal lewat dunia maya tersebut. Saya berpikiran positif bahwa buku masak tentu saja "berjualan" resep dan foto, bukan cerita ngalor ngidul  yang pasti akan ngabisin halaman, meski menurut hemat saya cerita ngalor ngidul  tersebut bisa menjadi nilai tambah sebuah buku untuk terasa lebih personal.



Namun demikian, bagi saya pribadi buku Dapur Bunda Nina sangat layak dikoleksi. Resep-resep makanan dengan tampilan foto yang ngilerable khas Mbak Nina cukup menjadi alasan bagi kita untuk memasukkan buku ini ke dalam keranjang belanja. Karena selain bisa nyontek resepnya yang cepat, praktis dan mudah; kita juga bisa belajar lewat foto-fotonya cara menyajikan makanan agar terlihat menggiurkan baik di hadapan keluarga secara langsung atau di hadapan kamera untuk kita jepret dan unggah di media sosial. Siapa tahu kita bisa menyusul jejak Bunda Nina untuk menjadi tukang masak, fotografer sekaligus penata saji rumahan 😆😙



Judul Buku: Kumpulan Resep Hits di Instagram
100+ Resep Andalan Dapur Bunda Nina
Praktis, Cepat dan Mudah Dipraktikkan

Penulis, fotografer & penata saji: Agustina Dwi

Editor: Intarina Hardiman

Penerbit: Gramedia, 2017


Friday, June 30, 2017

Susu Kedelai




Menjadi ibu itu, ekspektasinya bikin makanan dan keterampilan tangan yang cihuy kayak di pinterest. Realitanya, udah belanja, eh ga ada waktu dong ngolahnya. Akhirnya itu belanjaan teronggok tak berdaya di lemari selama berminggu-minggu. Tapi tahukah kamu bahwa niat saja sudah mendatangkan pahala? :P

Begitu pula yang terjadi pada sekilo kacang kedelai yang saya beli entah kapan. Waktu beli dulu sih udah kepikiran mau dibikin susu kedelai buat ASI booster. Namun cita-cita mulia tersebut kandas setelah saya menemukan ASI booster yang lebih mujarab: makan bakmi jawa di depan perumahan. Bayangkan, bakmi homemade yang dimasak bawang putih dan kemiri di atas anglo, dilengkapi kol, seledri dan tomat segar. Masya Allah, mau bakmi goreng atau bakmi kuah sama-sama membuat liur menetes. Dan sebanding dengan liur, maka ASI pun menetes deras setiap kali melahap habis bakmi Jawa.

Maka beberapa hari lalu saat sedang beres-beres lemari dapur, saya dikejutkan dengan buntelan kresek hitam yang ternyata berisi kacang kedelai. Tak mau lagi buang-buang bahan makanan (sebelumnya dengan hati galau sudah membuang tepung ketan hitam yang apak karena kelamaan disimpan), maka cepat-cepat saya oleh kacang kedelai tersebut menjadi Susu Kedelai. Resepnya lagi-lagi pake ilmu kanuragan perkiraan ya, semua asal tuang. Kurang manis tinggal tambah air. Terlalu encer tinggal dimasak lebih lama sama agak asat. Terlalu kental ya tinggal dituang air lagi. Suka-suka deh.


Susu Kedelai

Kacang Kedelai
Air matang

Cara membuat:
Cuci bersih kacang kedelai, lalu rendam dengan air semalaman hingga empuk.
Esoknya, gosok-gosok kacang kedelai dengan kedua tangan hingga kulit arinya terkelupas.
Buang kulit arinya, cuci bersih kacang kedelai.
Masukkan kacang kedelai ke dalam tabung blender, tambah air.
Blender hingga halus. Saring dengan kain blacu, sambil diperas hingga ampasnya kering.
Masak susu kedelai dengan api kecil sambil diaduk-aduk, jaga agar jangan sampai mendidih dan meluap. Saat akan mendidih, segera matikan apinya. Ulangi 2-3 kali hingga hilang rasa langunya. Buat yang suka rasa-rasa, saat dimasak gini silakan ditambah daun pandan atau ekstrak vanilla.
Angkat, dinginkan. Siap disajikan langsung atau ditambah pemanis.


Ampas susu kedelai di atas, saya taruh di Loyang, lalu dipanggang dengan api kecil (100C) selama 2-3 jam hingga kering. Ampas ini bisa dipakai sebagai pengganti tepung untuk kueh mueh. (50 gr ampas kedelai ini saya bikin untuk crumble di postingan Apple Crumble).


Ternyata dua liter susu kedelai ga habis, eneg kaka :D. Yuk diolah lagi jadi….TAHU!!!
Caranya pun ga kalah gampang, tinggal memanaskan susu kedelai lalu diberi air cuka atau perasan jeruk lemon. Aduk-aduk hingga lapisan lemaknya terpisah. Sendoki lemak bergumpal tersebut dan tempatkan di kain belacu agar airnya tersaring. Padatkan, lalu timpa dengan cobek agar airnya keluar serta untuk memadatkan tahu. Dan tadaaaa, jadilah TAHU!!!


Lalu rasanya gimana? Pahit wkakakakka :D. teksturnya pun padat tapi gampang hancur :D Entahlah apa yang salah, menurut analisa nihen sih sepertinya karena ga dikasi borax. Jadi, gimana kalo beli borax dulu untuk bikin tahu selanjutnya? :P




Thursday, June 22, 2017

Let’s Talk About M(i)e

Buat saya pribadi, Mie - sebagaimana hidangan utama lain - adalah salah satu makanan yang paling menantang untuk difoto. Hingga kini, Mie masih menjadi obyek favorit saya, salah satunya karena pertama kalinya saya menerima kritik luar biasa dari seseorang yang luar biasa adalah ketika pertama kalinya saya mengunggah foto Mie, fettucini tepatnya, di WFPP tema #noprops. Saya ingin sekali copas kritiknya di sini, namun apa daya akun instagramnya sudah dihapus, jadi komennya pun musnah tak bersisa. Eniwe, intinya, it was my wake up call. Saya seolah tersadar bahwa motrek makanan ga bisa seenak udelnya, ada aturan-aturan yang mesti dipatuhi untuk memaksimalkan fungsi foto (yaitu bikin ngiler). 


Foto fetucini di atas tertanggal 3 Februari 2015, waktu saya masih pake hape. Lucu ya fotonya? 😂 Entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu, kok ya bisa-bisanya fetucini ditaruh langsung di alas foto 😂😂 banyak yang protes dong, rata-rata karena artistik tidak boleh mengalahkan fungsi. Foto semestinya replika kehidupan nyata: masa makan mie tanpa alas, kan kotor, jorok, aneh ah. Kalo konsepnya mie tumpah, mana wadahnya? Kenapa terlihat diatur sedemikian rupa? Cahaya masih keras, waktu itu belum kenal diffuser atau blocker. Styling, hmmm ga usah dibahas deh 😄



9 feb 2015
Kurang dari seminggu kemudian, 9 Februari 2015 tepatnya, saya mengulang konsep foto #wfppnoprops di atas, hanya kali ini menuruti saran dan kritik seseorang untuk mengambil gambar dengan teknik BEV, belajar blocking cahaya, serta memperbaiki styling yang ga asal gabruk aja: pertama-tama mie dicepol menggunung agar terlihat berdimensi, lalu beberapa helai dicerabut untuk memberi kesan messy, lalu menata topping (irisan cabe, tuna, daun basir, keju parmesan). Arah cahaya dari pukul 12 yang diblok, tapi disisakan sedikit yang mengarah langsung ke obyek. Karena konsepnya tanpa properti, maka butuh membuat foto yang moody nan dramatis agar pemirsa tidak bertanya-tanya mana piringnya, garpunya, dsb; tapi langsung memandang keindahan mie dan parkir di situ #eaaaa. Tepat di titik inilah saya berkenalan dengan Still Life. It doesn't have to be rational, you just have to make them alive. Meski kalo untuk still life, masih kurang dramatis sih ya, but hey, it was my first time! 😬




27 mei 2015


30 mei 2015


1 juni 2015


30 mei 2015
Empat foto di atas adalah setoran untuk #WFPPNOODLE dan ulangannya :D. Pertama kalinya motrek mie kuah dengan topping lengkap, dari sayur, lauk hingga kuahnya. Lihat kan, mie-nya sudah terlihat berdimensi, tapi toppingnya kedodoran, poached egg gagal, kuah yang tidak terlihat kaldunya, irisan tomat yang tidak terlihat kesegarannya, styling yang masih kaku dsb.


15 Juni 2015







Kalo dua foto di atas adalah foto yang saya kumpulkan untuk ikulan lomba foto mie. Cahaya flat, telur ceploknya tidak menyelerakan (ga ada pantulan cahaya di kuning telur, terlalu matang), styling kaku banget.



 


Dua foto di atas tertanggal 7 April 2016, pertama kalinya motrek mie mentah. Lumayan lah.


5 mei 2016
Sudah pernah motrek mie kuah, jadi lumayan pede lah motrek mie kuah lagi, meski komposisi terlihat sesak, tapi styling makanan udah oke: kuah terlihat kaldunya, topping ayam terlihat shiny, begitu juga dengan mie-nya.


14 juni 2016, Mie Buah Bit
 


Pertama kalinya bikin mie sendiri dengan pewarna dari buah bit, meski kurang merah dan sewaktu dimasak warnanya buyar, tapi cukup puas dengan hasilnya (baik foto maupun rasa).


17 juni 2016, Pad Thai
Foto ini untuk foto produk sebuah wajan yang mengendorse saya. Maunya styling ala-ala Donna Hay yang messy gitu, tapi gagal dong 😥. Tantangan banget motrek Pad Thai dengan warna pucat yang isinya ada kecambah, bakso (berwarna pucat) dan udang. Taburan daun ketumbar, cabe kering dan kacang mete nya kebanyakan, jadi nutupi tekstur mie; terus lupa lagi irisan jeruk nipisnya.


Homemade Pasta
Fettucine Carbonara

Foto tertanggal 22 Juni ini pertama kalinya bikin pasta sendiri. Masalah utama di sini lighting yang flat!! PR banget kalo motrek pake props putih-putih 😭😭 Jelek, me dont like it.



Spaghetti
 Foto tanggal 6 November 2016 ini hasil endorse produk sosis. Simple, but i like this picture. Andai ada daun basil atau peterseli di situ kayaknya bisa bikin lebih hidup ya.
21 nov 2016
Kalo ini foto untuk mi instan yang jadi penyelamat anak kos ituuuuh. Komposisi dan styling aga kaku, lighting pun agak flat. Sejujurnya fotonya maksa, waktu itu saya baru ngelahirin (Z masih 2 bulan kurang). Pelajaran banget untuk ga memaksa diri sendiri nerima kerjaan saat kondisi ga memungkinkan. Untunglah klien oke-oke aja meski saya ga puas sama hasil fotonya 🙈🙈


16 des 2016
Ini pentingnya persiapan dan mengetahui karakteristik hero yang hendak dipotrek. Foto di atas adalah zoodle, alias zucchini noodle. Zucchini yang dirajang panjang seperti mie lalu dimasak. Karena belum pernah masak zucchini, nekad deh, eh ternyata waktu dimasak berair, huwaaaaa. Pas diangkat dan airnya dilap pake tisu, zucchininya udah letoy banget. Payah!


5 jan 2017
 Pertama kalinya motrek bihun. Karena tanpa pesiapan, jadi ambil properti seadanya sambil main matching-matchingan. Banyak kurangnya foto ini, dari ga ada cabe, topping yang kalah sama bihun, but I like it!


5 mei 2017
Bikin mie buah bit lagi, saat itu pindah spot ke dapur yang semi outdoor (selama ini motrek di ruang tamu). Eh ternyata cahayanya oke juga. Saya baru ini dapat cahaya yang terangnya oke untuk alas putih. Warna mie beserta toppingnya terlihat nyalak. Oke timunnya maksa, but this one is my favorite!


7 mei 2017
 Sejak punya buku Women's Weekly, saya jadi terpengaruh gayanya yang messy, vibrant dengan nuansa oldies yang kental (enamelware, rustic silverware tapi dg mood cerah ceria). Ini salah satu hasil contekan stylingnya menurut versi saya. Lighting aga flat, tapi saya suka dengan mie yang terlihat naturally effortless, kayak mak gedabruk gitu aja tapi masih terkontrol.


16 mei 2017
Foto mie terakhir ini dari endorse produk mie sehat. Buat menaikkan tantangan, dalam satu frame saya bikin mie kuah dan mie goreng dengan topping yang berbeda. Ribetttt, but i love it!

Karena dapat mie yg warnanya bluwek, jd ngerencanain topping warna-warni untuk ngangkat mie. Begini persiapannya:
1. Siapin props, tes cahaya
2. Masak Mie: a. Rebus rebus jagung n jamur sambil motong cabe, kompor satunya rebus telur
b. Jagung & jamur ☑, rebus mie utk mie kuah (kuahnya ga dipake ya), kompor satunya goreng bawang goreng, lalu ayam. c. Mie utk mie kuah ☑, lanjut rebus buat mi goreng, ayam udah matang, kompornya ganti rebus air (buat kuah)
3. Plating mie goreng n kuah 
4. Motrek, utak atik komposisi, cahaya (apa perlu diffuser, blocker, reflektor)
5. Poin e  oke, baru nyiram kuah ke mangkok utk mie kuah
6. Last touch: oles minyak ke mie, jamur, cabe n jagung agar shiny n kliatan fresh 
7. Jepret berbagai angle

8.  Z udah nangis geruh2 dicuekin dari tadi 😂😂

Kesimpulannya, as cliche as it sounds, practice makes perfect. Skill is like muscles, the more you train, the stronger they are.  Foto mie saya masih jauh dari sempurna, tapi semakin lama saya semakin tahu apa yang kurang dari foto saya, ga se-clueless waktu pertama kali motrek mie 2 tahun lalu. Motrek mie juga udah ga selama dulu. Ingat kan kalo persiapan adalah setengah dari kesuksesan, jadi persiapan saya jauh lebih matang (dari  nentuin konsep, nyiapin properti, menghias topping, menata mie, dsb). But again, at the end of the day, your feeling is the matter at the most. Ga peduli orang kata apa soal fotomu, as long as you like it, YOU WIN!!! 

Tuesday, June 20, 2017

Ladrang



Kraus Kraus Kraus…

Sejarah mencatat bahwa cemilan berbentuk stik renyah yang dibuat dari adonan roti berasal dari kota Turin, Italia. Konon Grissini, nama stik roti tersebut, telah diciptakan semenjak abad ke-14, meski menurut orang lokal Turin, pencipta pertama Grissini adalah Lanzo Torinese pada tahun 1679 (begini kata Wikipedia).

Kraus Kraus Kraus…

Entah bagaimana caranya, Grissini yang memakai adonan roti kehilangan raginya saat perjalanan ke Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Dan barangkali seperti Patih Gaj Ahmada yang berubah menjadi Gajahmada pada lidah orang Jawa, maka Grissini pun dialihbahasakan menjadi Ladrang. Jauh amat ya keseleo lidahnya… Padahal Ladrang adalah struktur 32 ketukan dalam karawitan, mungkinkah dinamai Ladrang karena pembuatan Ladrang membutuhkan 32 ketukan dan hentakan pisau saat mengiris adonannya?

Kraus Kraus Kraus…

Ladrang adalah stik renyah dari tepung dan kanji, dibumbui bawang putih dan micin banyak-banyak agar gurihnya nonjok; serta tak lupa diberi kucai atau seledri sebagai pengurang rasa bersalah. Sebungkus plastik ukuran 200 gram dibanderol tujuh ribu rupiah, harga yang lumayan untuk stik tepung rasa micin...

Kraus Kraus Kraus….

Dan karena sekali makan saja langsung habis sebungkus plastik itu, maka khusus setiap bulan puasa pak suami minta dibikinin Ladrang agar gilingan mie yang dibeli tahun lalu ga mangkrak di lemari dapur.

Kraus Kraus Kraus….


Stik Bawang Pedas
Modif dikit dari: Rizma Syuhada dapoer ijo

Bahan:
500 gr tepung protein sedang
125 gr tepung sagu
90 gr margarin leleh
1 bungkus Boncabe level 30 + 1 sdm Boncabe rasa Teri
8 tangkai daun seledri
2 siung bawang putih, haluskan
2 butir telur
¼ sdt baking powder
¼ sdt baking soda
½ sdt kaldu ayam bubuk
Air secukupnya

Cara membuat:
Aduk semua bahan hingga tercampur rata, tuang air sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga kalis.
Giling tipis di gilingan mie dengan ketebalan sesuai selera.
Potong dengan pemotong mie yang lebar (kwetiau).
Potong panjang 15 cm.
Goreng dalam minyak banyak yang sudah dipanaskan terlebih dahlu hingga matang dan kering.
Angkat, tiriskan.

catatan: a. rasanya aga hambar, lain kali tambah garam 1/2 sdt deh biar nonjok. Atau micinnya dibanyakin. Di resep asli utk 1 kg tepung terigu butuh micin 1,5 sdt.
b. resepnya pake seledri tapi fotonya kok peterseli? Beneran pake seledri, tapi pas motrek seledrinya udah layu menguning, jelek ah dipoto :P



Friday, June 16, 2017

Sifon Ketan Hitam


Saat masih kuliah dulu, saya bercita-cita, jika kelak memiliki anak perempuan akan saya namai Liyan. Liyan atau dalam bahasa Inggris The Other adalah konsep fundamental dalam pemikiran Simone de Beauvoir di bukunya The Second Sex. Meminjam modus “Ada” pada manusia dalam filsafat Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Beauvoir berpendapat bahwa dalam relasi laki-laki dan perempuan, laki-laki (Diri, Subyek) memandang perempuan sebagai Liyan, sebuah obyek yang tidak dapat berdiri sendiri. Tak hanya dapat berdiri (eksistensi) sendiri, Liyan juga dipandang sebagai ancaman bagi Diri, maka di sinilah sumber subordinasi laki-laki terhadap perempuan. Perempuan harus ditundukkan karena ia adalah ancaman laten dan manifest bagi eksistensi laki-laki.

Namun tak terbatas pada feminisme, konsep Liyan juga banyak dipakai untuk menjelaskan tentang sesuatu yang tak terpecahkan, tak terhitungkan, yang terpisah dari keDirian kita. Pada satu titik, Liyan adalah ancaman, namun bukankah apa-apa yang berada di luar kita adalah ancaman karena ketidaktahuan kita tentangnya?

Alasan lain pemberian nama Liyan, adalah karena Goenawan Mohamad. Catatan Pinggir adalah manuskrip pertama yang membuat saya jatuh cinta pada dunia literasi, jauh sebelum cinta saya pada Matilda dan Little Prince. Lahir dan besar dari orangtua yang tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, alm Bapak mengajarkan kecintaan pada aksara saat ia – seorang sopir di pabrik rokok – berlangganan majalah Tempo. Bagi bapak, membaca Tempo adalah secuil surga yang ia nikmati setelah seharian bermandikan peluh di jalanan. Saya masih ingat benar, saat kelas dua SD, saya hafal semua nama menteri di kabinet Pembangunan beserta nama ketua DPR dan MPR. Saya ikut ngobrol dengan bapak tentang perpecahan di PDI, antara Soerjadi dan Megawati. Saya tidak mengerti arti komunisme, kapitalisme, Marxisme, hingga usaha Fritjof Capra untuk menjembatani sains dan agama di bukunya The Tao of Physic; namun otak saya sudah sedemikian familiar dengan nama dan konsep-konsep asing tersebut. Dan ya, Goenawan Mohamad adalah orang yang memperkenalkan istilah Liyan ke dalam kamus bahasa Indonesia.

Maka nama Liyan saya pilih bukan hanya karena ia adalah salah satu konsep terpenting di Feminisme, namun juga karena ia mengandung kenangan akan Bapak. Bapak yang ternyata seorang Liyan: sopir miskin yang dengan kurang ajarnya berlangganan majalah Tempo yang tentu saja harganya tidak murah.


Sekitar bulan Juni-Juli tahun lalu, saat bidan dengan yakin menyatakan bahwa janin yang saya kandung berjenis kelamin perempuan, saya memutuskan untuk tidak menamainya Liyan. Entah karena didorong naluri sebagai orang tua yang ingin melindungi anaknya, bagi saya Liyan adalah sebuah resiko. Menamai Liyan berarti mengharapkan keLiyanan pada anakmu, dan ternyata saya tidak cukup kuat untuk menanggungnya saat ini. Saya menyadari bahwa saya tidak memiliki hak untuk menginvestasikan harapan terlalu besar padanya. Saya ingin, biarlah dia sendiri yang menentukan jalannya, bukan saya ibunya. Entah apa kelak ia menjadi Liyan atau Diri, cukup dia, pengalaman serta pilihannya yang akan membuatnya menjadi. Seperti halnya pilihan saya untuk tidak menindik telinganya, yang bagi saya adalah memberinya pilihan ketika ia besar nanti. Bagi saya dan suami, masalah tindik telinga ini sangat sepele; namun ternyata tidak bagi keluarga besar, tetangga serta teman-teman kami. Bagi mereka, penanda perempuan salah satunya adalah tindik di telinga :D. maka tanpa saya menamainya Liyan-pun, saat ini Z sudah menjadi Liyan di mata handai taulan kami yang memandangnya aneh  (dan berkali-kali menganggapnya anak laki-laki). Oh well….


Nah dalam dunia perglepungan, bagi saya tepung ketan hitam adalah liyan. Selain karena warnanya, teksturnya pun sangat berbeda dari tepung-tepungan. Meski namanya black glutinous rice, namun ketan hitam ternyata tidak mengandung gluten. Nama glutinous merujuk pada teksturnya yang lengket seperti lem yang disebabkan oleh kandungan amylose dan amylopectin yang tinggi. Saat diolah, teksturnya berpasir, legit dan rasanya sangat khas: sedikit terasa kacang (nutty) dengan selintas rasa manis alami. Di Indonesia tepung ketan hitam banyak diolah menjadi aneka jajan tradisional seperti Bugis, Kue Ku atau Getas. Untuk cake yang paling sering ya ini: Sifon Ketan Hitam. Aduhhhh, tekstur empus-empus ala sifon ketemu ketan hitam yang berpasir dan legit, huah susah berhentinya. Enak. Enak. Enak!


Sifon Ketan Hitam

Adonan A:
40 ml minyak sayur
65 ml santan kental
5 kuning telur
100 gr tepung ketan hitam

Adonan B:
5 putih telur
80 gr gula pasir

Cara membuat:
Panaskan oven 170 C.
Campur adonan A jadi satu di mangkok, aduk dengan kocokan kawat, sisihkan.
Campur adonan B jadi satu di mangkok lain, kocok dengan mixer kecepatan tinggi hingga jambul petruk (saat mangkok dibalik adonan tidak tumpah).
Aduk balik Adonan B ke adonan A dalam tiga tahap.
Tuang ke Loyang sifon, hentakkan 3 kali agar gelembung udara keluar.
Panggang hingga matang sekitar 40 menit.
Angkat, balik Loyang hingga dingin.
Keluarkan cake dengan disisir sekelilingnya menggunakan pisau tipis.
Potong-potong, sajikan.